19 May 2019

Pada tanggal 19 Mei 2019, umat Buddha merayakan hari besar keagamaannya, Tri Suci Waisak 2563 BE/2019.

Perayaan hari raya Waisak, dalam kalender Buddhist biasanya jatuh pada bulan Mei menurut kalender Masehi. Namun sering kali juga bisa jatuh pada bulan April atau awal Juni.

Kata Waisak sendiri berasal dari bahasa Pali, yaitu “Vesakha” dan dalam bahasa Sansekerta disebut “Vaisakha”.

Hari Raya Waisak dalam kalangan umat Buddha sering disebut dengan Trisuci Waisak.

Bukan tanpa alasan, pemberian nama tersebut dilandasi oleh tiga peristiwa penting yang semuanya terjadi di bulan “Vesakha” yang bersamaan dengan hadirnya bulan purnama.

Berikut tiga peristiwa penting tersebut:

1. Kelahiran Pangeran Sidharta
Pangeran Sidharta merupakan putra dari seorang raja yang bernama Raja Sudodhana dan seorang permaisuri yang bernama Ratu Mahamaya.

Pangeran Sidharta lahir ke dunia sebagai seorang Bodhisatva atau calon Buddha, yang dikenal sebagai calon seseorang yang akan mencapai kebahagiaan tertinggi. Pangeran tersebut lahir di Taman Lumbini pada tahun 623 Sebelum Masehi.

2. Mencapai Penerangan Sempurna
Menginjak usia 29 tahun, Pangeran Sidharta pergi meninggalkan istana dan anak istrinya menuju hutan untuk mencari kebebasan dari 4 peristiwa yang beliau lihat, yakni lahir, tua, sakit, dan mati.

Pada usia 35 tahun, tepat pada saat datangnya purnama Sidgi di bulan Waisak, akhirnya petapa Sidharta mencapai penerangan sempurna, atau menjadi Sang Buddha.

3. Parinibbana
Selama 45 tahun sang Buddha menyebarkan Dhamma, yang dikutip dari berbagai sumber merupakan hukum abadi.

Lalu pada usia 80 tahun beliau wafat, atau yang disebut sebagai Parinibbana, di Kusinara.

Semua makhluk dan para Dewa serta anggota Sanggah bersujud sebagai tanda penghormatan terakhirnya kepada Sang Buddha.

Untuk memperingati Hari Raya Trisuci Waisak ini, biasanya umat Buddha pergi ke Vihara melakukan puja-bhakti dengan tujuan mengingat kembali ajaran sang Buddha. (disadur dari Tribun-bali.com)

 

 

Quick Links

Social Media

Instagram